Review

'Sinners' β€” Horor Vampir yang Membawa Luka Sejarah Bangsa

5 menit bacaan
Sinners Film Ryan Coogler

"Saya selalu memikirkan, bagaimana cara menampilkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin Anda lihat." Pernyataan Ryan Coogler ini menjadi kunci untuk memahami Sinners. Sutradara trilogi Creed ini kembali berkolaborasi dengan Michael B. Jordan untuk menghadirkan sesuatu yang jauh melampaui horor vampir biasa.

Ketika Blues Bertemu Darah

Berlatar di Mississippi Delta tahun 1932, film ini mengikuti saudara kembar Smoke dan Stack (keduanya diperankan oleh Michael B. Jordan) yang mencoba membangun kembali hidup melalui sebuah juke joint. Namun, kedamaian mereka terusik oleh kehadiran kelompok vampir pimpinan Remmick (Jack O'Connell).

"Coogler menggunakan genre vampir sebagai alegori kekuatan tentang apropriasi budaya dan kekerasan sistemik di era Jim Crow."

Detail Produksi yang Megah

Film ini tidak main-main dalam aspek teknis. Dipotret menggunakan format 65mm IMAX oleh Autumn Durald Arkapaw, Sinners menciptakan visual yang ultra-lebar dan imersif. Desainer produksi Hannah Beachler bahkan membangun seluruh set juke joint dari nol selama delapan minggu untuk mencapai otentisitas maksimal.

Dari sisi audio, Ludwig GΓΆransson merekam musisi legendaris Bobby Rush secara langsung di lokasi syuting. Hal ini memberikan lapisan "nyawa" pada musik blues yang menjadi jantung narasi film ini.

Vampir Sebagai Alegori Sejarah

Vampir dalam film ini bukan sekadar monster haus darah. Mereka adalah representasi dari eksploitasi. Coogler mengeksplorasi tema keluarga dan komunitas melalui palet warna simbolik: putih untuk gereja, haint blue untuk perlindungan tradisi, dan merah untuk keberanian serta kapitalisme.

Kesimpulan

Dengan raihan 16 nominasi Oscar, Sinners membuktikan bahwa horor bisa menjadi medium refleksi sejarah yang sangat kuat. Ini adalah karya yang menolak klise dan memilih untuk menggali kedalaman emosional di tengah atmosfer yang mencekam.

Penilaian RevieWWe
β˜…β˜…β˜…β˜…β˜…
9.5 / 10